Pada Sayap Patahmu

Langit abu-abu di ingatanku.
Pada sayap patahmu, kekasih,
aku bertahan.
Dari memar luka
juga senja
yang penghabisan.

Maka
pulanglah!
Suatu waktu,
kau akan menemukan hutan yang
rimbunnya memekarkan rindu
di jantung puisiku.

Perih Yang Lain

Angin menawarkan kepergian.
Seperti firasat tak tentu, secangkir kopi, juga segala yang tak mampu kita pahami.

Pada atap dan jendela di sudut kamar yang kekal, seseorang melihat bayangannya dihapus cermin.
Apakah kehilangan tak juga serumit itu? Sebab kita tahu, *hidup hanya menunda kekalahan.

Nubuat sunyi, dan hari hujan.
Pada tebing yang menjadi dingin, burung-burung migrasi.
Mungkin membangun sangkar baru, atau mencari perih yang lain, sementara kesedihan seperti tak kenal ampun.
Maka untuk seluruh kesedihanku, tahukah engkau, seberapa dekat jantungmu dengan batu di kedalaman lukaku? Aku takut.

Barangkali akan ada rahasia yang terungkap dari hujan yang meniadakan basahnya. Barangkali juga tidak.
Terkadang langit hanya terpaku pada perasaan gadis kecil yang mencintai diam-diam, sedang waktu dan takdir terlalu pandai mengelabuhi usia.

*Dikutip dari Derai-Derai Cemara – Chairil Anwar

Ibu

(*)
Peluk aku, Ibu!
Sebelum dunia menjauh
dan segala yang tersisa hanyalah
ketiadaanku.

(*)
Hujan kecil di sayup matamu, Ibu,
ialah kepedihan yang bahkan langit pun
tiada pernah sanggup
menangguhkannya.