seseorang menjemput pergimu

mungkin, kesedihanku telah memiliki nama.
mungkin juga tidak.
tetapi kulihat seseorang
menjemput pergimu
dan langit menuangkan begitu banyak senja.

lalu,
kutemukan sebagian diriku
tengah berlari mengejar bayangmu.
kudapati diriku tergesa-gesa
melewati terowongan yang basah oleh segala
ingatan tentangmu – senyum terakhirmu.

sementara udara sedingin kilometer tak tertempuh,
sampailah aku diantara
rerimbun ilalang
di dadamu yang sunyi
dan gemerisiknya
tak lagi sempat kukenali.

Iklan

tak sebatas cuaca

1/
Malam ini, kekasih, hanya ada
monolog pepohonan dan langit yang beku.
Seseorang meniup nafiri sedang yang lain
memeluk kedua lutut.
Tetapi kesedihan,
seperti tak kenal ampun
dan cuaca buruk sekali.

2/
Di kotaku, kekasih,
kesunyian ialah
suara ombak yang menampar batu karang.
Sedang kita, mungkin, tak lebih dari
percakapan yang samar karenanya.

3/
Setiap dari kita hanyalah
rintik gerimis yang sebentar lagi juga berakhir, katamu,
menatap mataku lebih lama.
Tetapi kau percaya:
cinta tak seperti cuaca.
Meski pada akhirnya yang tersisa tinggallah
kefanaan kita.

Pada Sayap Patahmu

Langit abu-abu di ingatanku.
Pada sayap patahmu, kekasih,
aku bertahan.
Dari memar luka
juga senja
yang penghabisan.

Maka
pulanglah!
Suatu waktu,
kau akan menemukan hutan yang
rimbunnya memekarkan rindu
di jantung puisiku.